Followers

Senin, 08 November 2010

PEMIKIRAN POLITIK JAMALUDDIN AL AFGHANI, ABDUH, DAN RASYID RIDHO


PEMIKIRAN POLITIK JAMALUDDIN AL AFGHANI, ABDUH, DAN RASYID RIDHO

Topik 3 Pemikiran Politik Islam

1. Pemikiran Pan Islamisme Jamaluddin


o Pan Islamisme (Al-jami’iyyah Al-Islamiyyah) adalah rasa solidaritas seluruh umat Islam di dunia. Semangat Pan Islamisme ini diserukan ke seluruh negara Islam yang sedang mengalami kemunduran dan intervensi Barat. Pan Islamisme dicetuskan Al-Afghani untuk memajukan dan mempersatukan umat Islam di seluruh dunia dalam menghadapi dunia Barat .
o Pada saat itu keadaan umat Islam sedang mengalami kemunduran. Perpecahan yang terjadi mengakibatkan pemerintahan yang absolut, rakyat tidak dapat percaya kepada pemimpin, bidang militer dan ekonomi juga melemah seiring intervensi dari Barat.

o Pemikiran politik Jamaluddin Al-Afghani :



1. Keyakinan terwujudnya Islam yang bangkit dan berjaya kembali

apabila umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni dan meneladani kehidupan sahabat Nabi, khususnya Khulafaur Rasyidin.

2. Melawan kolonialisme dan dominasi Barat, dalam segala aspek baik politik, ekonomi maupun budaya.

3. Mengakui kemajuan Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, umat Islam harus belajar dari Barat dalam dua bidang tersebut tetapi harus tetap sesuai dengan ajaran Islam.

4. Menentang sistem pemerintahan yang otoriter, absolut, dan berkuasa dengan sewenang-wenang. Menggantinya dengan sistem pemerintahan yang demokratis dan musyawarah.

5. Menganjurkan Pan Islamisme yang menyatukan seluruh umat Islam termasuk Persia dengan menggunakan bahasa Arab.

6. Melakukan perubahan kekuasaan secara revolusi.


2. Abduh & Ridho Mempertahankan Lembaga Khilafah

Pemikiran Muhammad Abduh mengenai Khilafah :

1. Menurut Abduh, apapun bentuk sistem pemerintahan yang relevan dianut, terutama jika bentuk khilafah masih tetap menjadi pilihan sebagai model pemerintahan, maka bentuk demikian pun harus mengikuti perkembangan masyarakat. Ini mengandung makna bahwa apa pun bentuk pemerintahan, Abduh menghendaki suatu pemerintahan yang dinamis. Dengan demikian, ia mampu mengantisipasi perkembangan zaman.



2. Prinsip negara demokrasi harus dilakukan oleh rakyat dan pemerintah secara bersama-sama seperti pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Pemikiran Rasyid Ridha mengenai Khilafah :


1. Menurutnya, khalifah yang ideal adalah seseorang yang memiliki sifat adil, memiliki kemampuan, dan mementingkan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi. Fungsi khalifah antara lain menyebarkan kebenaran, menegakkan keadilan, memelihara agama, dan bermusyawarah tentang masalah yang tidak dijelaskan nash . khalifah bertanggungjawab kepada dewan pengawas.

2. Khalifah merupakan pemimpin umat Islam, oleh karena itu harus ditaati semasa pemerintahannya sesuai dengan ajaran Islam.

3. Rasyid Ridha menentang pemerintahan absolut kerajaan Usmani dan menentang politik Inggris dan Perancis yang ingin membagi Arab di bawah kekuasaan Inggris dan Perancis.

4. Rasyid Ridha juga ingin mempersatukan umat Islam. Tetapi ia tidak setuju dengan gerakan nasionalisme, karena menurutnya nasionalisme bertentangan dengan ajaran persaudaraan umat Islam seluruh dunia. Karena dalam Islam, persaudaraan umat Islam tidak mengenal perbedaan bahasa, bangsa, ataupun tanah air.

5. Hukum dan Undang-Undang tidak bisa dilaksanakan tanpa kekuasaan pemerintah. Oleh karena itu perlu adanya suatu bentuk negara. Bentuk negara yang dianjurkan Rasyid Ridha adalah dalam bentuk kekhalifahan. Dan kepala negaranya adalah khalifah yang mempunyai kekuasaan legislatif. Khalifah tidak boleh absolut dan harus mempunyai sifat mujtahid. Kedaulatan umat berada di tangan umat dan berdasarkan prinsip musyawarah. Idenya mengenai kekhalifahan tersebut, ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul al-Khilafah.


3. Reformasi dan Pembaharuan Politik

a. Menurut Jamaluddin Al-Afghani

Menurut Al-Afghani, adapun pembaharuan politik yang harus dilakukan yaitu, merubah pemerintahan otokrasi ke dalam bentuk pemerintahan demokrasi. Kepala negara harus melakukan syura dengan pemimpin-pemimpin masyarakat yang banyak mempunyai pengalaman. Dalam banyak tulisan dan ceramahnya, Ia mencoba menafsirkan kembali nilai-nilai Islam. Ia berupaya menemukan landasan yang kokoh bagi pembaharuan kehidupan kaum muslimin, sehingga mereka akan lebih modern dan rasional dalam berfikir. Reformasinya ini diwujudkan dalam paham Pan islamisme yang menekankan kebangkitan seluruh masyarakat muslim melawan kolonialisme barat.

b. Menurut Muhammad Abduh

Dalam bidang politik, Abduh berpendapat bahwa prinsip demokrasi harus dilaksanakan secara bersama-sama oleh rakyat dan pemerintah. Dalam menyikapi Undang-Undang Negara, Muhamad Abduh meyakini tiap negara mempunyai Undang-undang yang sesuai dengan dasar-dasar kebudayaan dan politik yang berlaku di tempat itu atas dasar perbedaan geografis. Hal ini dilandasi oleh keyakinan Abduh bahwa terdapat keterkaitan erat antara seseorang dengan tanah airnya

c. Menurut Rasyid Ridha

Sedangkan menurut beliau, salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah karena perpecahan di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, Rasyid Ridha pun tertarik pada ide persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) dan ingin agar umat Islam bersatu kembali. Dan tunduk dalam suatu pemerintahan yang berbentuk negara. Bentuk negara yang dianjurkan adalah negara dalam bentuk kekhalifahan. Beliau sangat menentang paham nasionalisme, serta gencar memberantas berbagai bentuk bid’ah dan fatalisme.

Hingga pada akhirnya, dua pioner islam kontemporer ini telah membuka jalan bagi terjadinya Islamic Renaissance dengan mengupayakan penyatuan modernitas Barat dengan tradisi Islam klasik. Hal ini terjadi pada fase kedua kebangkitan Islam Arab antara tahun 1870 hingga 1900. Abduh dan Ridho saat itu berupaya menafsirkan ulang Islam agar senantiasa sesuai dengan kehidupan modern




4. Perbedaan Pendekatan Antara Jamaluddin Al- Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridho


JAMALUDDIN AL- AFGHANI MUHAMMAD

ABDUH
RASYID

RIDHO

1. Jalan untuk memperbaiki keadaan umat Islam menurt Al-Afghani, ialah melenyapkan pengertian-pengertian salah yang dianut umat pada umumnya, dan kembali kepada ajaran-ajaran dasar Islam yang sebenarnya.




1. cara berpikir Abduh yang lebih dinamis dan sering bersentuhan dengan jalan pikiran kaum rasionalis Islam atau Mu'tazilah.
2. Pemikirannya dilihat dari kondisi keadaan geografi dan budaya. Abduh terus mengadakan berbagai perubahan yang radikal, revolusioner bertahap khusunya dalam memajukan pendidikan.



1. Pola pendekatannya tidak seradikal Abduh.
2. Rasyid lebih menekankan konsep khilafah dalam penyatuan umat islam.
3. Mengatasi sikap fanatik terhadap pendapat para ulama terdahulu, Ia menganjurkan toleransi bermazhab.



2. Jamaluddin menekankan konsep pan-Islamisme dalam pendekatannya. Menurutnya, persatuan termasuk salah satu tiang agama Islam. Untuk itu, Ia mengimbau penguasa-penguasa & segenap unsur masyarakat Islam untuk bersatu serta mengecam kecenderungan perpecahan dalam tubuh umat muslim.



3. Pola pikir beliau cenderung radikal dalam hal pemberantasan cara-cara lama yang kolot dan fanatik (sarat bid’ah), guna tercapainya kebangkitan bangsa-bangsa timur (usyruqiyyah) guna melawan dominasi Barat.

4. Lebih liberal & kritis dalam interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an khususnya perihal ketauhidan.



4. Peradaban Barat modern menurut Rasyid Ridha didasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk kemajuan, umat Islam harus mau menerima peradaban Barat yang ada. Dan diharapkan, proses akulturasi ini akan membawa umat islam ke arah kebangkitan.

DAFTAR PUSTAKA

Sjadzali, Munawir. Islam dan Tata Negara. 1990

Badriansyah, Ardi. “PERJALANAN REFORMASI ISLAM MUHAMMAD ABDUH DAN RASYID RIDHO” . Artikel ini diakses pada 9 Oktober 2010 dari http://www.andrihardiansyah.blogspot.com

“Pemikiran Islam”. Artikel ini diakses pada 9 Oktober 2010 dari http://www. pemikiran-modren-dalam-islam- menurut.html

Saleh, Marhamah. “Fiqh Siyasah”. Artikel ini diakses dari http://www.scribd.com/doc/8448323/Muhammad- Abduh-dan-Rasyid-Ridho-motivator-reformasi-Islam




Disusun Oleh :



MARINA IKA SARI (109083000040)

MIRNA ASNUR (109083000057)

DYAH WIDOWATI K (109083000060)

HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2010

Tidak ada komentar: